TIMES DENPASAR, JAKARTA – Amerika Serikat tetap bertekad akan mencaplok pulau Greenland.
"Suka atau tidak suka. Dengan cara yang sulit sekalipun," kata Presiden AS, Donald Trump, mengulangi ancamannya saat mengadakan pertemuan dengan para eksekutif perusahaan minyak di Gedung Putih yang dihadiri pula oleh Wakil Presiden JD Vance, Menteri Luar Negeri Marco Rubio, Jumat (8/1/2026).
Donald Trump juga telah 'mematok bangkrong', suka atau tidak suka akan bertindak terhadap Greenland dengan selalu beralasan demi kepentingan keamanan nasionalnya. Sebab, kata dia, kalau Amerika Serikat tidak bertindak, maka Greenland akan diambilalih oleh Rusia atau China.
"Karena itu Amerika Serikat akan melakukan sesuatu di Greenland, suka atau tidak suka," katanya mengulangi kembali ancamannya untuk merebut wilayah semi-otonom Denmark tersebut.
"Karena jika kita tidak melakukannya, Rusia atau China akan mengambil alih Greenland. Dan kita tidak akan memiliki Rusia atau China sebagai tetangga," tambahnya.
China memang telah melakukan berbagai langkah di kawasan ini, dengan menyatakan diri pada tahun 2019 sebagai "negara yang dekat dengan Arktik" dan menguraikan rencana untuk "jalur sutra kutub" yang akan meniru sabuk infrastruktur yang telah dibangunnya di daratan.
Sekretaris pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, menyinggung motif ini pada hari Rabu, dengan mengatakan bahwa kepemilikan AS atas Greenland diperlukan "untuk mencegah agresi Rusia dan China di wilayah Arktik," meskipun ia mengatakan akan ada "banyak manfaat lainnya."
Trump mengaku penggemar berat Denmark, dan ia ingin membuat kesepakatan dengan cara mudah. "Saya ingin mencapai kesepakatan, dengan cara yang mudah, tetapi jika kita tidak melakukannya dengan cara yang mudah, kita akan melakukannya dengan cara yang sulit," ujarnya.
Sarang Perampok
Namun, bagi sekutu Amerika dan penduduk Greenland sendiri, ancaman Trump untuk merebut wilayah semi-otonom Denmark itu jauh lebih menyakitkan, dan mengancam untuk menghancurkan prinsip kerja sama pertahanan Barat yang telah berlangsung selama beberapa dekade.
Pekan ini, Perdana Menteri Denmark, Mette Frederiksen mengatakan AS tidak berhak untuk mencaplok salah satu dari tiga negara di Kerajaan Denmark itu dan memperingatkan bahwa pengambilalihan oleh Amerika akan menandai berakhirnya aliansi militer NATO.
"Jika Amerika Serikat memilih untuk menyerang negara NATO lain, maka semuanya akan berhenti, termasuk NATO dan keamanan yang telah diberikan aliansi tersebut sejak Perang Dunia Kedua," kata Frederiksen kepada media lokal.
Hanya sedikit yang bisa mereka lakukan untuk menghentikannya.
“Sejujurnya, ancaman ini benar-benar mengerikan,” kata Aaja Chemnitz, salah satu dari dua anggota parlemen Greenland di parlemen Denmark, dalam sebuah wawancara pada hari Kamis. “Anda tidak bisa begitu saja membeli negara lain, rakyat, jiwa Greenland,” tambahnya.
“Semua orang di Greenland membicarakannya, dan banyak orang yang khawatir dan prihatin.”
Kekhawatiran itu dirasakan bersama di seluruh ibu kota Eropa. Presiden Prancis Emmanuel Macron pada hari Kamis menuduh Amerika Serikat "melanggar aturan internasional yang dulunya mereka junjung tinggi,".
Sementara itu Presiden Jerman, Frank-Walter Steinmeier memperingatkan dunia berisiko jatuh ke dalam "sarang perampok, dimana orang-orang yang paling tidak bermoral mengambil apa pun yang mereka inginkan."
Negara-negara Eropa termasuk Inggris, Prancis, dan Jerman mengatakan dalam pernyataan bersama pekan ini bahwa mereka "tidak akan berhenti membela" prinsip-prinsip integritas teritorial, tetapi sebagian besar ahli setuju dengan penilaian blak-blakan wakil kepala staf Gedung Putih Stephen Miller bahwa "tidak ada yang akan melawan AS terkait masa depan Greenland."
Uni Eropa akan bisa menjatuhkan sanksi kepada AS, atau membatasi penggunaan pangkalan militernya di Eropa. "Tetapi keduanya akan sangat merugikan kedua belah pihak, kata Mika Aaltola, anggota parlemen Finlandia yang bertugas di Komite Urusan Luar Negeri Uni Eropa.
“Pada dasarnya kita terjebak dalam perangkap yang sulit dipecahkan,” kata Aaltola kepada NBC News.
"Semula kami mengira, bahwa Januari ini akan membahas kesepakatan perdamaian atau gencatan senjata di Ukraina,” katanya, merujuk pada upaya diplomatik antara AS dan Eropa untuk mengakhiri konflik tersebut.
"Namun tiba-tiba, kami menyadari bahwa Trump telah memanipulasi kami ke dalam situasi dimana dia ingin menguasai Greenland," tegas dia.
Iain Duncan Smith, seorang anggota parlemen veteran Inggris, mengatakan realitas bagi Eropa adalah mereka mungkin perlu menawarkan alternatif terhadap tuntutan yang diajukan Trump.
Greenland adalah pulau yang berlokasi strategis dan kaya mineral, dan merupakan wilayah semi-otonom dari sekutu NATO, Denmark.
Meskipun tampak sangat besar pada peta proyeksi Mercator, di mana ukurannya diregangkan hingga sebesar Afrika meskipun sebenarnya 14 kali lebih kecil, Greenland jarang sekali mendapat perhatian begitu besar dalam kesadaran umum dunia Barat.
Pulau yang luas ini, kira-kira seukuran gabungan antara Alaska dan California, hanya dihuni oleh 57.000 orang, hampir sama dengan penduduk Carson City, Nevada. Sembilan puluh persen dari mereka adalah penduduk asli Inuit yang nenek moyangnya telah tiba di pulau itu lebih dari 1.000 tahun yang lalu.
Denmark menjajah Greenland 300 tahun yang lalu dan memberikannya status wilayah otonom pada tahun 1970-an, sambil tetap mempertahankan kendali atas militer dan kebijakan luar negeri.
Amerika Serikat pernah menguasai Greenland selama Perang Dunia II untuk mencegahnya digunakan oleh Nazi, dan sejak tahun 1951 telah ada perjanjian yang memungkinkan AS untuk "membangun, memasang, memelihara, dan mengoperasikan" pangkalan militer di seluruh pulau tersebut.
Satu-satunya pangkalan militer AS di Greenland digunakan sebagai pos deteksi dini rudal nuklir Soviet selama Perang Dingin, dan pernah menjadi tempat tinggal ribuan pasukan pada puncaknya. Terkurung oleh es selama sembilan bulan dalam setahun, pangkalan Pituffik sekarang diawasi oleh Angkatan Luar Angkasa AS dan menampung jumlah pasukan yang jauh lebih sedikit. (*)
Artikel ini sebelumnya sudah tayang di TIMES Indonesia dengan judul: AS Tetap Akan Mencaplok Greenland, Bahkan dengan Cara Sulit Sekalipun
| Pewarta | : Widodo Irianto |
| Editor | : Ronny Wicaksono |